Poin Penting:
Deposito tetap bisa menguntungkan saat inflasi tinggi jika dikelola dengan strategi yang tepat dan menghasilkan bunga kompetitif.
- Jenis-jenis Inflasi: Inflasi bisa disebabkan oleh lonjakan permintaan, bertambahnya uang beredar, atau naiknya biaya produksi.
- Tips Menjaga Nilai Return Deposito di Tengah Tren Inflasi Tinggi: Strategi seperti mencari bunga lebih tinggi dari inflasi, laddering, dan diversifikasi dapat menjaga return deposito tetap optimal.
- Memilih Aplikasi Investasi Terbaik: Aplikasi digibank by DBS hadir sebagai solusi digital dengan akses 24/7, bunga kompetitif, edukasi finansial, dan fitur lengkap untuk kelola deposito secara cerdas.
Inflasi yang tinggi menjadi perhatian utama bagi para investor karena daya beli uang dapat tergerus secara signifikan. Pada kondisi saat ini, banyak investor cenderung mencari instrumen keuangan yang dianggap aman dan mampu memberikan perlindungan nilai. Salah satu instrumen yang sering dipilih adalah investasi deposito. Namun, seiring meningkatnya tekanan inflasi, muncul pertanyaan apakah deposito masih menjadi pilihan yang aman dan menguntungkan? Sebelum dapat menjawab tersebut, Sahabat digibank perlu memahami jenis-jenis inflasi serta strategi mengelola deposito agar tetap optimal di tengah tekanan harga.
Jenis-jenis Inflasi
Inflasi tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa penyebab utama yang membuat harga-harga barang dan jasa melonjak dalam periode tertentu. Pemahaman terhadap jenis inflasi penting untuk menilai dampaknya terhadap instrumen keuangan, termasuk deposito.
1. Inflasi karena Permintaan (Demand Pull Inflation)
Inflasi yang terjadi ketika permintaan agregat terhadap barang dan jasa dalam perekonomian melebihi kapasitas produksi yang tersedia. Ketika masyarakat memiliki daya beli tinggi, baik karena peningkatan pendapatan, ekspansi kredit, maupun stimulus fiskal, permintaan akan produk melonjak. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan menyebabkan harga-harga naik secara umum.
2. Bertambahnya Uang yang Beredar Akibatkan Inflasi (Quantity Theory Inflation)
Inflasi ini berdasarkan teori kuantitas uang, yang menyatakan bahwa peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat secara langsung akan menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Pada teori ini, jika jumlah barang dan jasa dalam perekonomian tetap, namun jumlah uang yang beredar bertambah, maka nilai uang tersebut akan menurun, menyebabkan inflasi.
3. Inflasi karena Kenaikan Biaya Produksi (Cost Push Inflation)
Inflasi timbul ketika biaya produksi meningkat sehingga produsen harus menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan. Biaya produksi yang meningkat bisa disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku, energi, upah buruh, atau kebijakan perdagangan seperti tarif impor.
Baca Juga: Cara Membuat Uang Bekerja Lewat Investasi
Tips Menjaga Nilai Return Deposito di Tengah Tren Inflasi Tinggi
Meskipun deposito dikenal sebagai instrumen yang aman, nilainya bisa tergerus inflasi jika tidak dikelola dengan cermat. Berikut beberapa tips untuk menjaga agar return deposito tetap optimal dalam situasi inflasi tinggi.
1. Cari Suku Bunga Deposito yang Lebih Tinggi dari Laju Inflasi
Langkah paling mendasar adalah mencari produk deposito dengan suku bunga yang lebih tinggi dari tingkat inflasi tahunan. Jika suku bunga deposito lebih rendah dari inflasi, maka nilai riil dari hasil investasi akan negatif.
Bank biasanya menawarkan berbagai tingkat suku bunga tergantung pada tenor dan jumlah dana yang ditempatkan. Lakukan riset dan bandingkan beberapa penawaran dari bank untuk menemukan suku bunga yang paling kompetitif. Selain itu, pertimbangkan suku bunga efektif (setelah dipotong pajak) dalam perhitungan keuntungan riil.
2. Gunakan Strategi Laddering dengan Tenor Beragam
Strategi laddering melibatkan penempatan dana deposito dalam berbagai tenor secara bertahap. Tujuannya adalah untuk mengatur arus kas dan mengantisipasi perubahan suku bunga. Anda dapat memperbarui sebagian dari deposito pada saat suku bunga naik, tanpa harus memecah seluruh dana yang ditempatkan.
Contohnya, alokasikan dana menjadi tiga bagian dengan tenor 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Ketika deposito 3 bulan jatuh tempo, dana tersebut bisa ditempatkan kembali dengan suku bunga terkini yang mungkin lebih tinggi. Strategi ini memberikan fleksibilitas dalam mengelola investasi deposito secara efisien.
3. Pertimbangkan Deposito Valas (Mata Uang Asing)
Deposito dalam mata uang asing bisa menjadi opsi ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap mata uang global, seperti Dolar AS atau Euro. Jika mata uang asing mengalami apresiasi terhadap Rupiah, maka keuntungan dari sisi kurs dapat menambah nilai return deposito Anda.
Namun, risiko utama dari deposito valas adalah fluktuasi nilai tukar. Oleh karena itu, strategi ini cocok untuk investor yang memahami risiko mata uang dan memiliki tujuan investasi jangka menengah hingga panjang.
4. Cermati Fitur Auto-Rollover (ARO)
Fitur ARO memungkinkan deposito diperpanjang secara otomatis setelah jatuh tempo dengan suku bunga dan tenor yang sama. Meskipun praktis, penting untuk tetap memantau suku bunga pasar secara berkala.
Pada kondisi inflasi tinggi, suku bunga bisa berubah dengan cepat. Jika bank tidak menyesuaikan suku bunga sesuai tren pasar, return deposito Anda bisa tidak optimal. Jadi, pastikan untuk meninjau ulang setiap kali periode ARO berjalan agar keputusan investasi tetap relevan dengan kondisi ekonomi terkini.
5. Perhatikan Pajak Bunga Deposito
Pajak atas bunga deposito menjadi faktor penting dalam menghitung keuntungan bersih. Di Indonesia, bunga deposito dikenakan pajak sebesar 20% untuk nominal di atas batas tertentu. Jika suku bunga deposito rendah dan pajak tinggi, maka return riil bisa sangat kecil, bahkan negatif dalam kondisi inflasi tinggi.
Oleh karena itu, dalam merancang investasi deposito, hitunglah bunga bersih setelah pajak dan bandingkan dengan tingkat inflasi agar tidak salah mengambil keputusan investasi.
6. Diversifikasi di Instrumen Pendukung
Meski deposito tergolong aman, mengandalkan satu jenis instrumen keuangan saja bukan langkah yang bijak, terutama saat inflasi tinggi. Diversifikasi dapat menjadi solusi, misalnya dengan mengalokasikan sebagian dana ke obligasi pemerintah, reksa dana pasar uang, atau emas.
Instrumen-instrumen tersebut bisa menawarkan perlindungan nilai atau potensi return yang lebih tinggi, yang pada akhirnya memperkuat posisi keuangan Anda secara keseluruhan. Deposito tetap bisa menjadi komponen inti portofolio, namun perlu disandingkan dengan instrumen lain yang mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi.
Ketika inflasi sedang tinggi, investasi deposito tetap memiliki potensi sebagai pilihan investasi yang cerdas. Hal ini bisa tercapai selama Anda bijak dalam memilih produk dengan bunga yang kompetitif, menerapkan strategi laddering untuk fleksibilitas tenor, mempertimbangkan deposito dalam valuta asing untuk lindung nilai, memperhatikan beban pajak atas bunga, dan rutin mengecek ulang ketentuan sebelum fitur auto-rollover aktif. Melalui manajemen keuangan yang tepat, deposito mampu menjaga nilai riil uang Anda dan tetap menjadi elemen penting dalam portofolio keuangan yang seimbang.
Agar keputusan finansial Anda makin kuat dan terarah, penting untuk mengikuti diskusi tren terkini seputar dunia keuangan. Manfaatkan panduan finansial dari advisor tepercaya, dapatkan notifikasi strategis, dan ikuti kelas edukasi finansial untuk memperluas wawasan. Melalui semua itu, Anda bisa menangkap peluang investasi kapan saja, bahkan saat pasar bergerak cepat. Semuanya bisa dilakukan melalui Aplikasi digibank by DBS yang dirancang untuk memberikan pengalaman finansial modern dan responsif.
Tak hanya itu, Anda juga dapat menikmati akses ke diskusi terseleksi mengenai insight finansial dan sektor industri yang relevan, sehingga setiap langkah keuangan Anda lebih terukur dan berbasis data. Semuanya tersedia dalam satu platform yang mudah dijangkau, fleksibel, dan informatif.
Investasi deposito di Aplikasi digibank by DBS dirancang untuk memberikan kenyamanan dan fleksibilitas bagi Anda yang ingin berinvestasi dengan aman. Hanya dengan setoran awal mulai dari Rp1 juta, Anda bisa menikmati bunga kompetitif hingga 5% per tahun. Tersedia pilihan tenor yang beragam mulai dari 1, 3, 6, 9, hingga 12 bulan sesuai kebutuhan dan rencana keuangan Anda. Semua layanan dapat diakses 24 jam melalui Aplikasi digibank by DBS, memberi Anda kendali penuh atas pengelolaan dana kapan pun dan di mana pun. Selain itu, dana Anda juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sehingga memberikan rasa aman dalam berinvestasi.
Tingkatkan kendali atas masa depan finansial Anda sekarang. Klik di sini untuk mulai buka deposito di Aplikasi digibank by DBS.
Baca Juga:
Cara cerdik Menentukan Jangka Waktu Deposito agar Maksimal
Mau Cuan Maksimal dari Deposito? Ini 5 Langkah Mudahnya
5 Trik Deposito yang Jarang Orang Tahu







