Analisis makro menjadi langkah penting yang harus dilakukan saat Anda berinvestasi Reksadana. Tujuannya tentu saja demi mengoptimalkan peluang profit dan membantu meminimalkan potensi risiko.
Salah satu langkah analisis yang harus dilakukan adalah analisis momentum IHSG. Ya, IHSG ini memang punya peran besar dalam mempengaruhi langkah investasi Anda.
Mari cari tahu lebih banyak mengenai IHSG dan kesalahan-kesalahan yang perlu dihindari saat menganalisis momentum IHSG.
IHSG sebagai Cermin Siklus Ekonomi
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG punya peran penting dalam analisis ekonomi dan investasi. IHSG juga sering disebut sebagai cermin siklus ekonomi.
IHSG akan menjadi barometer pertumbuhan dan resesi yang terjadi. Saat IHSG menguat maka tingkat kepercayaan investor tinggi dan optimisme ekonomi juga akan menguat.
Kemudian IHSG juga menjadi refleksi bagi faktor makroekonomi. Pergerakan nilai IHSG sangat dipengaruhi oleh banyak indikator ekonomi seperti suku bunga dari Bank Indonesia, tingkat inflasi, juga kebijakan pemerintah.
Tidak hanya itu, IHSG juga akan menjadi sentimen ekspektasi bagi pelaku usaha. Pergerakan IHSG akan terjadi berdasarkan perkiraan laba dari perusahaan emiten. Misalnya saat optimisme perbaikan ekonomi menguat maka investor akan membeli saham dan IHSG menguat.
IHSG juga bisa menunjukkan cerminan emosi dari para investor. Hal inilah yang kemudian akan menyebabkan volatilitas.
Faktor Makroekonomi yang Mempengaruhi Arah IHSG
Arah IHSG memang dapat terus berubah berdasarkan faktor-faktor makroekonomi yang mempengaruhinya. Dalam hal ini ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Berikut adalah faktor-faktor makroekonomi yang mempengaruhi arah dari IHSG.
● Kebijakan Moneter
Faktor pertama adalah adanya kebijakan moneter. Tentu saja kebijakan ini punya pengaruh besar terhadap perubahan ekonomi dan akan mempengaruhi arah dari IHSG.
Khususnya untuk kebijakan moneter yang berhubungan dengan suku bunga acuan atau BI rate. Lalu jumlah uang yang beredar dari bank sentral juga akan mempengaruhi hal ini.
● Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
Kondisi inflasi dan daya beli masyarakat tentunya juga akan berpengaruh pada perekonomian juga arah IHSG. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yang akan terjadi.
Jika inflasi tinggi maka daya beli masyarakat menurun dan berpengaruh negatif terhadap IHSG. Sebaliknya jika inflasi rendah maka daya beli masyarakat meningkat dan memberikan efek positif bagi arah IHSG.
● Nilai Tukar Rupiah dan Arus Modal Asing
IHSG juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Jika nilai Rupiah melemah maka akan menekan nilai IHSG.
Lalu saat aksi jual asing mengurangi likuiditas pasar, maka IHSG juga akan turun. Sebaliknya, IHSG juga akan menguat jika nilai Rupiah juga menguat dan net buy asing meningkat.
● Kondisi yang Terjadi secara Global
Tentu saja kondisi global juga akan mempengaruhi IHSG. Itulah mengapa sangat penting untuk mengetahui dan menganalisis semua faktor makroekonomi baik dalam negeri maupun global.
Salah satu contoh paling mudah adalah kondisi harga minyak dunia yang nantinya akan mempengaruhi arah IHSG.
Baca Juga: Strategi Averaging Up dalam Investasi Reksadana, Cocok atau Tidak?
Implikasi Makro terhadap Strategi Investasi
Investor perlu memahami dengan baik bawa implikasi makroekonomi terhadap strategi investasi cukup besar. Investor sebaiknya memahami berbagai faktor makro tadi agar pengambilan strategi investasi lebih tepat dan efektif.
Ada beberapa contoh implikasi makro ekonomi terhadap strategi investasi yang bisa Anda pahami. Misalnya saja kenaikan suku bunga sebagai bagian dari kebijakan moneter.
Saat ada kenaikan suku bunga oleh bank sentral maka cenderung akan ada penekanan pasar saham. Hal ini bisa menyebabkan perpindahan aset dari saham ke instrumen dengan pendapatan tetap.
Lalu ada kondisi inflasi yang juga harus diperhatikan. Jika inflasi tinggi maka risiko dan ketidakpastian bisa meningkat lalu valuasi saham akan menurun.
Kesalahan Umum dalam Membaca Momentum IHSG
Sebagai investor, tentu penting bagi Anda untuk membaca momentum IHSG dengan baik. Selain itu Anda juga sebaiknya menghindari beberapa kesalahan berikut saat membaca momentum IHSG.
● Terlalu Reaktif terhadap Volatilitas Harian
Bagaimanapun juga pasti akan ada volatilitas harian yang akan Anda jumpai. Arah IHSG bisa terus berubah dan memunculkan volatilitas harian yang mungkin menjadi trigger bagi Anda.
Sebaiknya jangan terlalu reaktif terhadap volatilitas harian. Kondisi bisa terus berubah dan arah IHSG masih sangat mungkin menuju ke arah positif tanpa Anda harus terburu-buru panik.
● Mengabaikan Data Makro
Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan data makro yang sebenarnya punya peran penting dalam analisis. Hindari panik berlebihan terhadap volatilitas harian dengan lebih memperhatikan data-data makro yang ada.
● Overconfidence saat Bullish Market
Jika Anda menemukan kondisi dimana terjadi bullish market, tetaplah tenang. Jangan kemudian berubah jadi terlalu percaya diri dan malah mengambil keputusan-keputusan yang impulsif.
Ingatlah bahwa kondisi yang ada bisa jadi hanya sementara. Jadi fokus saja pada tujuan investasi dan profil risiko Anda untuk menghindari terjadinya tindakan impulsif pada saat kondisi tertentu.
● Tidak Menyesuaikan Strategi dengan Siklus Ekonomi
Kesalahan lain yang juga perlu dihindari adalah tidak menyesuaikan strategi dengan siklus ekonomi yang ada. Padahal strategi investasi Anda sangat bergantung pada siklus ekonomi tersebut.
Jadi perhatikan baik-baik bagaimana siklus ekonomi yang berlangsung dan jadikan acuan dalam menentukan strategi terbaik Anda.
Lakukan Investasi Reksadana Lebih Aman bersama DBS Treasures
Analisis momentum IHSG bisa Anda lakukan saat menyusun strategi investasi Reksadana. Pastikan saja Anda memilih perbankan prioritas DBS Treasures sebagai mitra investasi karena ada banyak kemudahan dan keuntungan yang bisa Anda rasakan.
Perbankan prioritas DBS Treasures akan memberikan dukungan penuh bagi Anda dalam berinvestasi dan mencapai tujuan finansial. Anda akan didampingi Relationship Manager untuk mendapatkan beragam rekomendasi investasi serta menyusun strategi portofolio sesuai profil risiko Anda.
Perbankan prioritas DBS Treasures juga memberi kemudahan bagi Anda untuk mendapatkan wawasan agar bisa memandu strategi investasi. Jika ingin melakukan diversifikasi prosesnya juga akan lebih mudah dan aman sehingga risiko investasi jadi minimal.
Tersedia pula akses Aplikasi DBS digibank yang dilengkapi berbagai fitur untuk mempermudah Anda dalam berinvestasi. Aplikasi ini membantu Anda untuk registrasi SID (Single Investor Identification) dan melakukan transaksi jual beli maupun switching Reksadana.
Anda juga akan mendapatkan akses ke beragam event terkurasi yang menghadirkan diskusi pakar finansial dan industri serta networking bersama mitra usaha potensial.Susun strategi investasi Reksadana Anda sebaik mungkin salah satunya dengan menganalisis momentum IHSG. Pilih perbankan prioritas DBS Treasures sebagai mitra agar Anda bisa berinvestasi dengan nyaman, aman, dan mudah.
Publikasi ini telah dikurasi oleh tim internal PT Bank DBS Indonesia (DBSI) dan didistribusikan oleh DBSI.
DBSI berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Publikasi ini bukan merupakan bagian dari penawaran, rekomendasi, atau ajakan kepada Anda untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun sebagaimana dijelaskan, juga tidak ditujukan untuk mengundang atau mengizinkan pembuatan penawaran kepada publik untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun untuk mendapatkan uang tunai atau imbalan lainnya dan tidak boleh dipandang seperti demikian.
Baca Juga:
Wealth Protection Melalui Reksadana: Lindungi Kekayaan Tanpa Harus Diam di Tabungan
The Swensen Model: Strategi Alokasi Jangka Panjang untuk Kekayaan Berkelanjutan
Pension Wealth Strategy: Menghasilkan Income Berkelanjutan Lewat Reksadana Imbal Hasil Stabil
