Pinjaman tanpa agunan sering kali dianggap sebagai tombol darurat saat atap bocor atau dinding mulai retak. Padahal renovasi rumah seharusnya menjadi bagian dari perencanaan fase hidup yang matang, bukan alasan untuk asal mengambil kredit.
Bagi keluarga muda, rumah adalah bangunan sekaligus investasi kenyamanan dan memori. Memasuki fase renovasi memang mendebarkan. Maka dari itu, tanpa strategi keuangan yang pas, mimpi punya dapur estetik bisa berubah jadi drama tagihan yang mencekik.
Nah, untuk kamu yang mau renovasi, yuk cek dulu cara menyusun anggaran yang tepat!
Renovasi Rumah Itu Proyek Besar, Begini Cara Susun Anggarannya!
Pernahkah kamu renovasi rumah lalu tiba-tiba di akhir pengeluarannya membengkak? Padahal kamu sepertinya sudah bikin anggaran, tetapi tetap saja masih over budget. Ini berarti perencanaanmu kurang detail.
Renovasi seharusnya diperlakukan seperti proyek. Ada tujuan, tahapan, prioritas, dan batas anggaran yang jelas. Dengan pola pikir ini, kamu bisa menjaga agar keputusan finansial tetap rasional, tidak membengkak.
Kesalahan paling umum adalah langsung bertanya “habis berapa, ya?” tanpa tahu komponennya. Padahal, anggaran renovasi sebaiknya disusun dari beberapa lapisan berikut:
● Perencanaan Biaya: Detail adalah Kunci
Jangan pernah memulai renovasi hanya dengan modal mengira-ngira. Anggaran yang meleset biasanya terjadi karena kita hanya menghitung hal-hal yang terlihat di permukaan.
Untuk menyusun anggaran yang terukur, kamu perlu membaginya ke dalam empat pilar utama, antara lain:
1. Desain dan Struktur
Apakah kamu akan mengubah tata ruang? Menambah lantai? Desain yang matang di awal akan mencegah bongkar-pasang di tengah jalan yang memakan biaya dua kali lipat.
Untuk itu, jangan lupakan desain, ya. Perencanaan yang jelas bisa membantu kamu tahu prioritas fungsinya sekaligus rincian detail biaya. Sehingga tidak ada drama bongkar-pasang karena plin-plan.
2. Material (The Big Spending)
Pilih material yang durable. Terkadang, membeli material sedikit lebih mahal di awal jauh lebih hemat daripada membeli yang murah, tetapi harus diganti dua tahun sekali.
3. Utilitas (Listrik dan Air)
Kedua hal ini sering terlupakan, padahal pemindahan titik keran atau instalasi kabel baru memerlukan biaya jasa dan material yang tidak sedikit.
Renovasi yang baik biasanya justru mengoptimalkan utilitas agar rumah lebih aman, hemat energi, dan nyaman dipakai sehari-hari.
Pastikan kamu membuat perencanaan panjang. Misal di kemudian hari kamu mau membangun lantai atas, atau menambah kamar, sekalian pikirkan saat ini dalam instalasi utilitasnya, agar tidak perlu bongkar pasang lagi.
4. Biaya Tenaga Kerja dan Waktu
Renovasi yang molor berarti membutuhkan biaya tambahan. Pastikan jadwal kerja realistis dan ada buffer waktu. Makin rapi perencanaannya, makin kecil risiko biaya tak terduga.
5. Biaya Perawatan Pasca-Renovasi
Setelah renovasi selesai, rumah butuh penyesuaian. Pastikan ada dana sisa untuk pembersihan total atau perbaikan kecil yang mungkin muncul setelah masa konstruksi.
Masukkan ini ke dalam anggaran agar tidak terasa membengkak karena belum termasuk biaya perawatan.
Baca Juga: Rumah Rentan Banjir? Ini 10 Upgrade Penting yang Bisa Menyelamatkan Properti Kamu
● Renovasi dan Cashflow: Dua Hal yang Harus Selaras
Renovasi yang sehat secara finansial adalah renovasi yang tidak mengganggu stabilitas cashflow keluarga. Artinya, cicilan rutin, dana darurat, dan kebutuhan harian tetap aman.
Berikut ini strateginya yang bisa kamu terapkan:
1. Tentukan Angka Aman Bulanan Dulu
Sebelum hitung total renovasi, tentukan dulu berapa maksimal dana yang realistis kamu keluarkan per bulan tanpa mengganggu kebutuhan rumah tangga.
2. Pisahkan Pos-Pos
Minimal ada tiga ember uang, yaitu kebutuhan harian, dana aman (tabungan atau dana darurat), dan renovasi. Jangan dicampur supaya kamu tahu batasnya secara jelas.
3. Pegang Prinsip Bahwa Dana Darurat Jangan Disentuh
Renovasi itu rencana, bukan kondisi darurat. Dana darurat sebaiknya tetap utuh untuk hal yang benar-benar tidak terduga.
4. Buat Anggaran Bertahap, Bukan Sekaligus
Banyak orang terjebak pada pemikiran bahwa renovasi harus dilakukan sekaligus dalam satu waktu. Padahal, bagi keluarga muda, strategi renovasi bertahap jauh lebih masuk akal secara cashflow.
Misalnya, tahun ini fokus pada perbaikan area servis dan dapur, tahun depan baru beralih ke area kamar tidur. Dengan cara ini, kamu tidak perlu menguras seluruh tabungan atau mengambil beban finansial yang terlalu berat di satu waktu.
Dalam konteks ini, penggunaan pinjaman tanpa agunan bisa ditempatkan sebagai alat manajemen arus kas.
Artinya, kamu menggunakan dana tersebut untuk menjaga agar tabungan inti atau dana darurat keluarga tidak tersentuh, sementara kamu membayar cicilannya dari pendapatan bulanan yang sudah dialokasikan.
5. Siapkan Buffer 10–15% dari Total Biaya
Selalu ada biaya tak terduga misal material ada kenaikan harga, perbaikan utilitas, atau revisi kecil. Untuk itu, siapkan buffer agar arus kas kamu tidak kaget.
6. Kalau Pakai Pinjaman, Cocokkan Cicilan dengan Angka Aman Bulanan
Intinya sederhana, cicilan harus masuk ke batas bulanan yang sudah kamu tentukan di awal. Di sini pinjaman tanpa agunan bisa relevan kalau tujuannya memang untuk merapikan arus kas.
7. Hindari Pembayaran yang Bikin Kamu Nahan Napas Tiap Bulan
Kalau setelah dihitung kamu harus memangkas kebutuhan pokok atau tabungan secara ekstrem, berarti skala renovasi atau skema bayarnya perlu diturunkan.
8. Pantau Pengeluaran Mingguan saat Proyek Berjalan
Renovasi itu dinamis. Cek realisasi biaya per minggu supaya kamu bisa cepat koreksi sebelum pembengkakan makin besar.
Kredit Tanpa Agunan untuk Renovasi Rumah
Dalam menyusun strategi finansial yang modern, kamu mungkin butuh dukungan dari institusi yang paham gaya hidup digital. Salah satu opsi yang bisa kamu pilih untuk mengelola cashflow adalah DBS KTA.
Produk ini dirancang untuk kamu yang menyukai efisiensi. Tanpa perlu proses yang berbelit-belit, semuanya bisa diakses secara digital melalui aplikasi. Terlebih, ada berbagai hal yang membuatnya menarik untuk perencanaan renovasi, antara lain:
1. Proses Digital
Kamu bisa melakukan pengajuan kapan saja tanpa harus mengorbankan waktu kerja atau waktu bersama keluarga.
2. Kepastian Limit
Kamu bisa mengetahui limit yang tersedia dengan relatif cepat sehingga kamu bisa segera menyesuaikan rencana renovasi dengan anggaran yang nyata.
3. Transparansi dan Keamanan
Sebagai produk dari lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh OJK, faktor keamanan data dan kejelasan bunga menjadi jaminan yang menenangkan.
Posisikan dukungan finansial ini sebagai fondasi agar rencana renovasi tetap berjalan sesuai jadwal tanpa mengganggu alokasi biaya sekolah anak atau premi asuransi kesehatan keluarga.
Jika kamu merasa bahwa pinjaman tanpa agunan adalah bagian dari strategi cashflow yang tepat untuk proyek rumahmu, kamu bisa segera mengajukan karena prosesnya cukup mudah. Pinjaman ini memiliki limit mencapai Rp300 juta dengan bunga flat mulai 0,88%. Selain itu, cicilannya bisa diatur hingga 36 bulan. Pengajuannya tanpa ribet, cukup punya Kartu Kredit dan e-KTP!
Dengan menyusun anggaran yang detail, menetapkan prioritas renovasi, dan menggunakan instrumen seperti pinjaman tanpa agunan secara bijak sebagai alat pengatur arus kas, kamu bisa mewujudkan rumah impian tanpa mengorbankan masa depan keuangan.
Kalau kamu tertarik dengan DBS KTA, isi form pendaftaran ini sekarang atau cek dulu syarat dan ketentuan DBS KTA, ya!
PT Bank DBS Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Publikasi ini bukan merupakan bagian dari penawaran, rekomendasi, atau ajakan kepada Anda untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun sebagaimana dijelaskan, juga tidak ditujukan untuk mengundang atau mengizinkan pembuatan penawaran kepada publik untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun untuk mendapatkan uang tunai atau imbalan lainnya dan tidak boleh dipandang seperti demikian.
Baca Juga:
Merenovasi Rumah dengan Konsep Green Living dan Hemat Energi
Prediksi Tren Dekorasi Interior 2026 untuk Rumah Kamu
Renovasi Rumah 2026: Lebih Untung Pakai Kontraktor atau Mandor? Ini Plus-Minusnya




