Dynamic Asset Allocation
27 Feb 2026

Dynamic Asset Allocation: Strategi Investasi Reksadana untuk Portofolio yang Resilient

Dinamika pasar global dan domestik menuntut investor untuk tidak bertahan pada static asset allocation saja, namun juga dynamic asset allocation. Pendekatan tersebut cocok untuk diterapkan dengan menggunakan Reksadana.

Instrumen ini dikenal fleksibel karena strukturnya yang mendiversifikasi dana ke berbagai aset alih-alih hanya satu. Selain itu, instrumen tersebut juga dapat disesuaikan dengan perubahan pasar.

Lantas, apa itu dynamic asset allocation? Apa perbedaannya dengan statis? Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahuinya lengkap dengan studi kasus, keuntungan, dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menerapkannya.

Apa Itu Dynamic Asset Allocation pada Investasi Reksadana?

Jadi, strategi investasi aktif ini melibatkan manajer investasi yang bisa mengubah proporsi aset secara fleksibel dan berkala. Perubahan proporsi tersebut disesuaikan dengan kondisi pasar.

Alhasil, keuntungan saat pasar bullish bisa dimaksimalkan. Di sisi lain, kerugian saat pasar sedang bearish akan ditekan.

Sebagai contoh, Manajer Investasi akan mengalokasikan lebih banyak dana ke saham saat pasarnya sedang naik. Namun bila pasar tersebut sedang turun, maka porsinya akan dialokasikan ke Obligasi atau kas untuk menjaga nilai portofolio secara keseluruhan.

Itulah mengapa Reksadana cocok dipilih untuk strategi ini. Dengan aset tersebut, Manajer Investasi akan menyesuaikan porsi dana yang Anda alokasikan ke aset-aset tertentu secara otomatis sesuai dengan pasar.

Dynamic vs Static Asset Allocation

Beberapa perbedaan mendasar dapat dilihat antara dynamic dan static asset allocation, yaitu:

●       Pendekatan

Dalam strategi dinamis, Manajer Investasi akan selalu menyesuaikan porsi dana yang dialokasikan oleh investor ke berbagai aset sesuai dengan kondisi pasar. Dengan demikian, fleksibilitas perubahan porsi dana pun tergolong tinggi.

Di sisi lain, dana yang dialokasikan dengan pendekatan static asset allocation tetap mempunyai porsi sama pada berbagai aset. Jadi, sifatnya kaku dan disiplin meskipun nilai-nilai instrumen tersebut berubah di pasar.

●       Manajemen Risiko

Dynamic asset allocation dapat mengurangi eksposur aset di lingkungan pasar yang beresiko tinggi. Dengan demikian, pasar bisa diungguli oleh nilai investasi tersebut. Namun saat turun, kerugiannya dapat ditekan.

Strategi statis bertujuan mempertahankan eksposur pasar terhadap aset dengan menggunakan perhitungan rata-rata jangka panjang. Meski berpotensi terkena dampak pasar, strategi ini menitikberatkan pada pertumbuhan yang stabil dalam jangka panjang.

●       Biaya

Sifatnya yang fleksibel akan meningkatkan transaksi dan perdagangan aset. Hal ini membuat biaya dan pajak yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Bagaimanapun juga, rasio keduanya tetap bisa ditekan dengan memaksimalkan keuntungan.

Biaya static allocation strategy cenderung lebih rendah daripada dinamis. Hal ini disebabkan oleh minimnya perdagangan maupun transaksi aset lainnya hingga waktu jatuh tempo datang.

●       Waktu Terbaik

Strategi dinamis cocok bagi Anda yang ingin beradaptasi dengan siklus pasar dan mengelola volatilitas. Anda juga bisa memilihnya bila ingin membayar biaya lebih demi meraih keuntungan yang optimal.

Di sisi lain, strategi statis umumnya lebih cocok bagi investor dengan tujuan jangka panjang, seperti biaya pendidikan di masa depan. Lalu, investor disiplin dalam jangka panjang, suka strategi beli dan tahan yang berbiaya rendah juga cocok dengannya.

Peran Dynamic Asset Allocation Reksadana dalam Mengelola Volatilitas

Peran strategi dinamis dalam mengelola volatilitas cukup penting. Sebagai contoh, Anda bisa melihat studi kasus di bawah ini untuk Sucorinvest Balanced Fund dengan jenis instrumen campuran, yaitu kombinasi saham dan Obligasi yang fleksibel:

●       Pasar Bullish

Bullish ialah kondisi pasar saat Indeks Harga Saham Gabungan maupun komoditas lainnya mengalami tren kenaikan harga secara signifikan dan konsisten dalam jangka panjang.

Saat situasi ini terjadi, Manajer Investasi akan mengalokasikan lebih banyak dana ke saham. Dengan demikian, potensi capital gain yang lebih besar dapat diperoleh.

●       Pasar Volatil tau Koreksi

Pasar volatil terjadi saat harga saham serta aset lainnya fluktuatif secara tajam dan cepat. Bahkan, harga tersebut tidak bisa diprediksi dengan baik dalam waktu singkat sehingga ketidakpastiannya cukup tinggi.

Saat pasar volatil menekan global Manajer Investasi bisa mengalokasikan dananya ke Obligasi Pemerintah, Pasar Uang, atau instrumen lain yang lebih stabil. Jadi, volatilitas tetap dapat dikelola tanpa perlu investor keluar masuk pasar secara emosional.

 

Baca Juga: Investasi Reksadana: Jenis-Jenis Transaksi dan Tips Mengoptimalkannya

 

 

Keuntungan Dynamic Asset Allocation

Dengan strategi ini, sejumlah keuntungan bisa Anda peroleh dalam berinvestasi. Berikut beberapa di antaranya:

●       Manajemen Risiko Lebih Baik

Keuntungan dapat dimaksimalkan dalam kondisi bullish melalui alokasi dana ke saham dengan lebih banyak. Di sisi lain, dana akan dialokasikan ke aset yang lebih stabil saat volatile. Dengan demikian, drawdown bisa lebih ditekan.

●       Diversifikasi Otomatis

Strategi ini akan membuat Manajer Investasi mendiversifikasi dana secara otomatis. Dengan demikian, Anda tak perlu repot-repot melakukannya sendiri secara emosional saat pasar sedang bullish atau volatil.

●       Adaptif

Dynamic asset allocation memungkinkan portofolio menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan pasar. Jadi, pemerolehan imbal hasil bisa diperoleh dengan lebih optimal. Hal ini juga yang membuatnya cocok bagi semua kondisi.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan sebelum Memilih Dynamic Asset Allocation

Sebelum memilih untuk berinvestasi dengan strategi ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

●       Profil Risiko dan Tujuan

Anda perlu menyesuaikan strategi ini dengan profil risiko. Umumnya, strategi tersebut cocok untuk investor moderat hingga agresif yang ingin memaksimalkan imbal hasil tanpa memantau kondisi pasar setiap hari dengan tujuan jangka menengah ke panjang.

●       Diversifikasi

Pastikan bahwa dana yang Anda alokasikan benar-benar terdiversifikasi ke berbagai aset. Dengan demikian, risiko saat pasar naik atau turun bisa diminimalkan sembari memaksimalkan keuntungannya.

●       Riwayat Manajer Investasi

Riwayat manajer Investasi yang konsisten diperlukan agar strategi ini berhasil. Anda juga perlu memahami caranya untuk mengubah alokasi dana saat pasar bergejolak.

●       Biaya Transaksi

Sifatnya yang sering memperjualbelikan aset secara dinamis membutuhkan biaya transaksi lebih tinggi daripada statis. Anda perlu memperhatikannya dan menyesuaikan rasionya dengan imbal hasil yang diperoleh.

Bagaimana Perbankan Prioritas DBS Treasures dapat Membantu Anda?

Dynamic asset allocation bukanlah alokasi fleksibel semata, namun sistem kerja yang mampu menjaga portofolio agar tetap bertahan di perubahan pasar. Hal ini bisa Anda terapkan bersama mitra terpercaya seperti perbankan prioritas DBS Treasures.

Bersama DBS, Anda dapat berdiskusi strategi investasi bersama Relationship Manager agar risiko Anda dalam berinvestasi akan ditekan melalui diversifikasi. Menariknya, Anda juga akan memperoleh alert notification berupa peluang global dan lokal yang nantinya akan Anda terima melalui WhatsApp, email, dan Aplikasi DBS digibank.

Anda juga akan mendapat dukungan berupa akses ke beragam event terkurasi yang menghadirkan diskusi pakar finansial dan industri se-Asia pasifik serta networking bersama mitra usaha potensial. Investasi Reksadana bersama perbankan prioritas DBS Treasures akan terasa semakin mudah karena adanya aplikasi DBS digibank yang bisa digunakan untuk beli, jual, switching, bahkan proses registrasi SID. Jadi, tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk berinvestasi bersamanya!

 

Publikasi ini telah dikurasi oleh tim internal PT Bank DBS Indonesia (DBSI) dan didistribusikan oleh DBSI.

DBSI berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Publikasi ini bukan merupakan bagian dari penawaran, rekomendasi, atau ajakan kepada Anda untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun sebagaimana dijelaskan, juga tidak ditujukan untuk mengundang atau mengizinkan pembuatan penawaran kepada publik untuk membeli atau melakukan transaksi apa pun untuk mendapatkan uang tunai atau imbalan lainnya dan tidak boleh dipandang seperti demikian.

 

Baca Juga:

Aman di Tengah Gejolak: 5 Potensi Reksadana Pendapatan Tetap

9 Tips Memilih Reksadana Pendapatan Tetap, Stabil dan Aman!

Pengaruh Suku Bunga terhadap Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap