Insight Reksa Dana - Schroder Investment Management Indonesia
Insight dari Schroder Investment Management Indonesia terhadap produk Reksa Dana di periode Q2-2025
DBSI Wealth Management, DBS Bank8 Aug 2025
Article image
Photo credit: Shutterstock
Read More

Schroder 90 Plus Equity Fund 

Reksa dana mengalami performa dibawah tolok ukur sebesar 1,00% pada kuartal II 2025 karena posisi overweight (OW) kami pada salah satu saham teknologi yang harga sahamnya tertekan akibat adanya rumor terkait potensi aksi korporasi (M&A), meskipun fundamental kinerjanya tetap solid. Saham-saham yang tidak kami miliki karena penilaian valuasi yang tidak masuk akal justru menguat selama kuartal tersebut. Posisi OW kami pada beberapa saham keuangan berkapitalisasi kecil juga menjadi faktor penekan kinerja. Posisi OW kami pada salah satu saham material bangunan turut memberikan dampak negatif. Harga ayam hidup yang lemah juga menekan kinerja salah satu kepemilikan saham sektor perunggasan kami. 

 

Schroder Dana Andalan II 

Pada kuartal kedua, pasar global dikejutkan oleh volatilitas yang tinggi mulai dari tarif AS yang sangat tinggi hingga ketegangan antara Israel dan Iran. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 4,25%-4,50% dan menurunkan proyeksi pertumbuhan sambil menaikkan perkiraan inflasi hingga akhir tahun. Dot Plot bulan Juni juga mengindikasikan pemotongan suku bunga sebesar 50bps sampai akhir tahun. Pasar semakin khawatir terhadap kondisi pertumbuhan yang melambat yang mendorong penurunan yield pada US Treasuries tenor pendek karena ekspektasi pemotongan suku bunga the Fed yang lebih besar. Di sisi lain, RUU Trump’s One Big Beautiful Bill berhasil lolos di Senat dan DPR, yang semakin menambah kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal AS. Tren dedolarisasi juga semakin diperparah pada kuartal kedua seiring investor semakin meragukan kredibilitas AS sebagai aset bebas risiko BI akhirnya dapat menurunkan suku bunga pada bulan Mei sebesar 25bps dengan memanfaatkan kestabilan Rupiah untuk melonggarkan kebijakan. Kinerja SBN sangat baik, di mana obligasi 10 tahun menguat dengan penurunan yield 55bps ke 6,62% dan obligasi 2 tahun menguat dengan penurunan yield 64bps ke 5,97%. Investor asing membukukan pembelian bersih yang signifikan sebesar +Rp26,8 triliun pada SBN dengan persentase kepemilikan mencapai 14,56%. Terjadi reli besar pada obligasi tenor pendek berkat penurunan outstanding SRBI yang memungkinkan dana dapat diinvestasikan kembali ke dalam IndoGB. Schroder Dana Andalan mencatat kinerja di atas tolok ukur karena reksa dana ini memiliki obligasi pemerintah dengan tenor maksimal 3,5 tahun ke bawah serta obligasi korporasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan tolok ukur SPN 3 bulan. Selain itu, kurva IndoGB juga mengalami bullish steepening yang turut mendorong apresiasi harga obligasi-obligasi bertenor pendek tersebut. 

 

Schroder Dana Istimewa 

Reksa dana ini mencatat kinerja di bawah tolok ukur sebesar 4,14% akibat posisi underweight (UW) kami pada saham-saham proxy emas. Posisi overweight (OW) kami pada salah satu saham teknologi juga menjadi faktor penekan kinerja karena adanya rumor terkait potensi aksi korporasi (M&A). Posisi OW kami pada saham-saham bank tertekan oleh lemahnya kinerja laba dan arus keluar dana asing. Kepemilikan kami di sektor konsumer juga terdampak oleh lemahnya daya beli masyarakat. 

 

Schroder Dana Likuid 

Pada kuartal kedua, pasar global dikejutkan oleh volatilitas yang tinggi mulai dari tarif AS yang sangat tinggi hingga ketegangan antara Israel dan Iran. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 4,25%-4,50% dan menurunkan proyeksi pertumbuhan sambil menaikkan perkiraan inflasi hingga akhir tahun. Dot Plot bulan Juni juga mengindikasikan pemotongan suku bunga sebesar 50bps sampai akhir tahun. Pasar semakin khawatir terhadap kondisi pertumbuhan yang melambat yang mendorong penurunan yield pada US Treasuries tenor pendek karena ekspektasi pemotongan suku bunga the Fed yang lebih besar. Di sisi lain, RUU Trump’s One Big Beautiful Bill berhasil lolos di Senat dan DPR, yang semakin menambah kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal AS. Tren dedolarisasi juga semakin diperparah pada kuartal kedua seiring investor semakin meragukan kredibilitas AS sebagai aset bebas risiko BI akhirnya dapat menurunkan suku bunga pada bulan Mei sebesar 25bps dengan memanfaatkan kestabilan Rupiah untuk melonggarkan kebijakan. Kinerja SBN sangat baik, di mana obligasi 10 tahun menguat dengan penurunan yield 55bps ke 6,62% dan obligasi 2 tahun menguat dengan penurunan yield 64bps ke 5,97%. Investor asing membukukan pembelian bersih yang signifikan sebesar +Rp26,8 triliun pada SBN dengan persentase kepemilikan mencapai 14,56%. Terjadi reli besar pada obligasi tenor pendek berkat penurunan outstanding SRBI yang memungkinkan dana dapat diinvestasikan kembali ke dalam IndoGB. Schroder Dana Likuid mengungguli tolok ukurnya karena reksa dana ini memiliki obligasi pemerintah dengan tenor 1 tahun ke bawah serta obligasi korporasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito berjangka secara bersih. Selain itu, kurva IndoGB juga mengalami bullish steepening yang turut mendukung apresiasi harga obligasi bertenor pendek tersebut. 

 

Schroder Dana Mantap Plus II 

Pada kuartal kedua, pasar global dikejutkan oleh volatilitas yang tinggi mulai dari tarif AS yang sangat tinggi hingga ketegangan antara Israel dan Iran. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 4,25%-4,50% dan menurunkan proyeksi pertumbuhan sambil menaikkan perkiraan inflasi hingga akhir tahun. Dot Plot bulan Juni juga mengindikasikan pemotongan suku bunga sebesar 50bps sampai akhir tahun. Pasar semakin khawatir terhadap kondisi pertumbuhan yang melambat yang mendorong penurunan yield pada US Treasuries tenor pendek karena ekspektasi pemotongan suku bunga the Fed yang lebih besar. Di sisi lain, RUU Trump’s One Big Beautiful Bill berhasil lolos di Senat dan DPR, yang semakin menambah kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal AS. Tren dedolarisasi juga semakin diperparah pada kuartal kedua seiring investor semakin meragukan kredibilitas AS sebagai aset bebas risiko BI akhirnya dapat menurunkan suku bunga pada bulan Mei sebesar 25bps dengan memanfaatkan kestabilan Rupiah untuk melonggarkan kebijakan. Kinerja SBN sangat baik, di mana obligasi 10 tahun menguat dengan penurunan yield 55bps ke 6,62% dan obligasi 2 tahun menguat dengan penurunan yield 64bps ke 5,97%. Investor asing membukukan pembelian bersih yang signifikan sebesar +Rp26,8 triliun pada SBN dengan persentase kepemilikan mencapai 14,56%. Terjadi reli besar pada obligasi tenor pendek berkat penurunan outstanding SRBI yang memungkinkan dana dapat diinvestasikan kembali ke dalam IndoGB. SDMP II mencatat kinerja di bawah tolok ukur karena kurva IndoGB mengalami bullish steepening, sehingga posisi overweight kami pada tenor panjang mengurangi nilai. Obligasi korporasi kami juga tertinggal ketika obligasi pemerintah mengalami reli. Namun, imbal hasil dari obligasi korporasi berhasil menutupi sebagian dari kinerja negatif tersebut. 

 

Schroder Dana Prestasi 

Reksa dana ini membukukan kinerja di bawah tolok ukur sebesar 3,14% pada kuartal II 2025 karena posisi overweight (OW) kami pada salah satu saham teknologi yang harga sahamnya tertekan akibat rumor terkait potensi aksi korporasi (M&A), meskipun fundamental laba yang kokoh. Kepemilikan kami pada saham-saham konsumer juga terdampak oleh sentimen daya beli yang lemah. Selain itu, saham-saham yang tidak kami miliki karena valuasinya yang tidak masuk akal justru menguat selama kuartal tersebut. 

 

Schroder Dana Prestasi Plus 

Reksa dana ini membukukan kinerja di bawah tolok ukur sebesar 0,88% pada kuartal II 2025 karena saham-saham yang tidak kami miliki akibat valuasinya yang tidak masuk akal. Posisi overweight (OW) kami pada salah satu saham teknologi menekan kinerja karena adanya rumor terkait potensi aksi korporasi (M&A). Posisi underweight (UW) kami pada salah satu saham pertambangan logam juga menjadi faktor negatif akibat kenaikan harga emas. Posisi OW kami pada salah satu saham jalan tol turut menekan kinerja setelah pemerintah mengumumkan subsidi tarif tol. Selain itu, posisi OW kami pada sektor konsumer juga menjadi faktor penekan kinerja karena lemahnya daya beli. 

 

Schroder Dana Terpadu II 

Reksa dana ini mengalami underperform sebesar 3,09% yang didorong oleh kinerja saham, terutama dari salah satu saham teknologi yang kami miliki, di mana harga sahamnya tertekan oleh rumor terkait potensi aksi korporasi (M&A). Saham-saham yang tidak kami miliki karena valuasinya yang tidak masuk akal justru menguat selama kuartal tersebut. Kepemilikan kami di sektor konsumer juga terdampak oleh lemahnya daya beli. Sementara itu, kepemilikan kami di sektor perbankan tertekan oleh arus keluar dana asing dan melemahnya laba. 

 

Schroder Global Sharia Equity Fund USD 

Reksa dana ini membukukan kinerja di bawah tolok ukur sebesar 0,93% yang disebabkan oleh posisi overweight (OW) kami pada saham-saham sektor konsumer dan kesehatan. Posisi OW kami pada beberapa saham sektor keuangan juga menjadi faktor penekan kinerja. Selain itu, posisi OW kami pada saham-saham manufaktur dan industri turut memberikan dampak negatif. Posisi underweight (UW) kami pada salah satu perusahaan teknologi juga menekan kinerja setelah pasar Amerika Serikat kembali menguat pasca pengumuman tarif. 

 

Schroder Syariah Balanced Fund 

Reksa dana ini membukukan kinerja di bawah tolok ukur sebesar 2,11%. Beberapa sukuk pilihan kami, khususnya yang berjangka waktu pendek, mengalami underperform selama kuartal tersebut. Di sisi saham, kinerja kami tertekan oleh saham-saham yang tidak kami miliki karena valuasinya yang tidak masuk akal. Selain itu, posisi overweight (OW) kami pada perusahaan sektor konsumer juga tertekan oleh lemahnya daya beli. 

 

 

Temukan solusi investasi kami atau hubungi kami

Dapatkan analisis insight terkini, agar Anda dapat cepat berinvestasi (Grow) dan terproteksi (Protect) dengan solusi terkurasi khusus untuk Anda di sini.

Grow and Protect

Topic

Explore more

Fund Insights
Sanggahan
 
PT Bank DBS Indonesia (“DBSI”) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan. Informasi di dalam publikasi ini diterbitkan oleh DBSI. Informasi ini berlandaskan pada informasi yang diperoleh dari sumber yang diyakini dapat diandalkan, tetapi DBSI tidak membuat pernyataan atau jaminan, tersurat maupun tersirat, sehubungan dengan keakuratan, kelengkapan, aktualitas, atau kebenaran untuk tujuan tertentu. Pendapat yang diungkapkan dapat berubah tanpa pemberitahuan. Setiap rekomendasi yang terkandung di sini tidak berkaitan dengan tujuan investasi secara spesifik, situasi keuangan dan  kebutuhan khusus dari penerima tertentu. Informasi ini diterbitkan hanya untuk informasi penerima dan tidak akan diambil sebagai pengganti pelaksanaan penilaian oleh penerima yang harus mendapatkan nasihat hukum atau keuangan terpisah. DBSI atau individu yang terkait dengan DBSI tidak bertanggungjawab atas kerugian langsung, khusus, tidak langsung, konsekuensial, insidental, atau kehilangan atau kerugian lain apa pun yang timbul dari penggunaan informasi apa pun di sini (termasuk kesalahan, kelalaian atau kekeliruan pemberian pernyataan di sini, lalai atau lainnya) atau komunikasi lebih lanjut, bahkan jika DBSI atau orang lain telah diberitahu tentang kemungkinannya. Informasi di sini tidak dapat ditafsirkan sebagai penawaran atau permintaan penawaran untuk membeli atau menjual surat berharga, kontrak berjangka, opsi atau instrumen keuangan lainnya atau untuk memberikan saran atau layanan investasi. DBSI, direktur, pejabat, dan/atau karyawan dapat memiliki posisi atau kepentingan lain dan  dapat mempengaruhi transaksi dalam sekuritas/surat berharga yang disebutkan di sini dan juga dapat melakukan atau berupaya melakukan perantaan, investasi perbankan dan layanan perbankan atau keuangan lainnya untuk perusahaan-perusahaan ini. Informasi di sini tidak dimaksudkan untuk disebarluaskan kepada, atau digunakan oleh, orang atau badan mana pun di yurisdiksi atau negara mana pun dimana distribusi atau penggunaannya akan bertentangan dengan hukum atau peraturan. Sumber untuk semua grafik dan tabel adalah CEIC dan Bloomberg kecuali ditentukan lain.