
Manulife Dana Saham Kelas A
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja positif berasal dari alokasi di sektor Material. Sektor ini mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan pasar selama periode tersebut, dan posisi underweight dana di sektor ini memberikan kontribusi positif terhadap kinerja. Lingkungan pertumbuhan global yang melemah diperkirakan akan terus menekan prospek sektor ini.
Kontributor utama lainnya berasal dari efek seleksi positif di sektor Konsumer Staples. Sektor ini dipandang sebagai sektor defensif di tengah kondisi pertumbuhan global dan domestik yang melemah. Posisi overweight dana pada beberapa saham konsumer memberikan kontribusi positif terhadap kinerja.
Sementara itu, kontributor negatif utama berasal dari sektor Keuangan, terutama karena posisi underweight alami dana pada beberapa saham dengan bobot benchmark lebih dari 10% yang mencatat kinerja baik selama periode tersebut.
Pasar saat ini tampaknya sedang mencari pijakan yang stabil, namun prospek pertumbuhan masih belum pasti. Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan terus melambat, meskipun terdapat beberapa hal positif karena ekspektasi konsensus telah disesuaikan ke bawah. Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Kami tetap mempertahankan preferensi pada sektor-sektor yang didorong oleh permintaan domestik dengan kualitas laba yang tinggi, seperti sektor Keuangan dan Konsumer.
Manulife Saham Andalan
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja positif berasal dari sektor Material. Sektor ini mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan pasar selama periode tersebut akibat lemahnya prospek pertumbuhan global, dan posisi underweight dana di sektor ini memberikan kontribusi positif terhadap kinerja. Lingkungan pertumbuhan global yang lemah diperkirakan akan terus menekan prospek sektor ini.
Sementara itu, kontributor negatif utama berasal dari sektor Konsumer Diskresioner, terutama karena posisi underweight dana pada saham layanan ride-hailing yang mencatat kinerja sangat baik selama periode tersebut.
Pasar saat ini tampaknya sedang mencari pijakan yang stabil, namun prospek pertumbuhan masih belum pasti. Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan terus melambat, meskipun terdapat beberapa hal positif karena ekspektasi konsensus telah disesuaikan ke bawah. Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Kami tetap mempertahankan preferensi pada sektor-sektor yang didorong oleh permintaan domestik dengan kualitas laba yang tinggi, seperti sektor Keuangan dan Konsumer.
Manulife Greater Indonesia Fund
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja negatif berasal dari sektor Konsumer Diskresioner, terutama karena posisi underweight dana pada saham layanan ride-hailing yang mencatat kinerja sangat baik selama periode tersebut.
Kontributor negatif lainnya berasal dari sektor Keuangan, disebabkan oleh posisi underweight dana pada salah satu bank besar yang mencatat kinerja pasar yang kuat meskipun laporan keuangan kuartal pertama menunjukkan hasil yang lemah.
Sementara itu, kontributor positif utama berasal dari sektor Material, melalui kombinasi alokasi dan seleksi yang kuat. Sektor ini mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan pasar akibat lemahnya prospek pertumbuhan global, dan posisi underweight dana di sektor ini memberikan kontribusi positif terhadap kinerja.
Pasar saat ini tampaknya sedang mencari pijakan yang stabil, namun prospek pertumbuhan masih belum pasti. Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan terus melambat, meskipun terdapat beberapa hal positif karena ekspektasi konsensus telah disesuaikan ke bawah. Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Kami tetap mempertahankan preferensi pada sektor-sektor yang didorong oleh permintaan domestik dengan kualitas laba yang tinggi, seperti sektor Keuangan dan Konsumer.
Manulife Pendapatan Bulanan II
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan benchmark selama periode tersebut. Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bull steepening, di mana obligasi tenor pendek mencatat kinerja lebih baik, sementara obligasi tenor menengah hingga panjang cenderung stagnan. Imbal hasil obligasi 5 tahun turun sebesar 25 basis poin, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun naik sebesar 2 basis poin.
Kinerja kuat obligasi tenor pendek didorong oleh penurunan suku bunga mengejutkan dari Bank Indonesia pada Januari. Penurunan imbal hasil SRBI juga meningkatkan minat terhadap SBN tenor pendek. Sementara itu, obligasi tenor menengah-panjang tertekan oleh ketidakpastian terkait realokasi anggaran pemerintah yang menciptakan tekanan di pasar. Rumor mengenai kemungkinan pengunduran diri Menteri Keuangan juga turut membebani sentimen pasar.
Fokus dana pada obligasi tenor pendek menjadi kontributor utama terhadap kinerja positif.
Ke depan, minat terhadap obligasi tenor pendek diperkirakan akan tetap kuat, didukung oleh potensi penurunan suku bunga BI lebih lanjut, meningkatnya permintaan terhadap SBN dari SRBI yang jatuh tempo tahun ini, serta meningkatnya volatilitas global yang dapat mendorong minat terhadap kelas aset berisiko rendah.
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark selama periode tersebut. Pasar obligasi mengalami volatilitas yang dipicu oleh ketidakpastian terkait realokasi anggaran pemerintah yang menciptakan tekanan (overhang) di pasar. Rumor mengenai kemungkinan pengunduran diri Menteri Keuangan juga turut membebani sentimen pasar.
Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bull steepening, di mana obligasi tenor pendek mencatat kinerja lebih baik, sementara obligasi tenor menengah hingga panjang cenderung stagnan. Imbal hasil obligasi 5 tahun turun sebesar 25 basis poin, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun naik sebesar 2 basis poin.
Strategi dana menjadi lebih defensif selama periode tersebut, dengan durasi portofolio turun dari 7,6 tahun pada Desember 2024 menjadi 5,9 tahun pada akhir Maret 2025.
Kami memperkirakan volatilitas jangka pendek akan tetap tinggi, sambil menunggu kejelasan terkait negosiasi tarif AS, posisi fiskal domestik, dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Kami berencana untuk mempertahankan durasi portofolio pada posisi netral terhadap benchmark sambil menunggu katalis lebih lanjut di pasar.
Beberapa katalis yang kami pantau antara lain: stabilitas Rupiah yang berkelanjutan, penurunan imbal hasil SRBI, dan potensi penurunan suku bunga BI lebih lanjut.
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas Income 2
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark selama periode tersebut. Pasar obligasi mengalami volatilitas yang dipicu oleh ketidakpastian terkait realokasi anggaran pemerintah yang menciptakan tekanan (overhang) di pasar. Rumor mengenai kemungkinan pengunduran diri Menteri Keuangan juga turut membebani sentimen pasar.
Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bull steepening, di mana obligasi tenor pendek mencatat kinerja lebih baik, sementara obligasi tenor menengah hingga panjang cenderung stagnan. Imbal hasil obligasi 5 tahun turun sebesar 25 basis poin, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun naik sebesar 2 basis poin.
Strategi dana menjadi lebih defensif selama periode tersebut, dengan durasi portofolio turun dari 7,6 tahun pada Desember 2024 menjadi 5,9 tahun pada akhir Maret 2025.
Kami memperkirakan volatilitas jangka pendek akan tetap tinggi, sambil menunggu kejelasan terkait negosiasi tarif AS, posisi fiskal domestik, dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Kami berencana untuk mempertahankan durasi portofolio pada posisi netral terhadap benchmark sambil menunggu katalis lebih lanjut di pasar.
Beberapa katalis yang kami pantau antara lain: stabilitas Rupiah yang berkelanjutan, penurunan imbal hasil SRBI, dan potensi penurunan suku bunga BI lebih lanjut.
Manulife USD Fixed Income Kelas A
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan benchmark selama periode tersebut. Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bull steepening, di mana obligasi tenor pendek mencatat kinerja lebih baik, sementara obligasi tenor panjang cenderung stagnan. Imbal hasil obligasi 5 tahun turun sebesar 32 basis poin, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun turun sebesar 19 basis poin.
Kinerja kuat obligasi tenor pendek didorong oleh penurunan suku bunga mengejutkan dari Bank Indonesia pada Januari. Penurunan imbal hasil SRBI juga meningkatkan minat terhadap SBN tenor pendek. Sementara itu, obligasi tenor menengah-panjang tertekan oleh ketidakpastian terkait realokasi anggaran pemerintah yang menciptakan tekanan (overhang) di pasar. Rumor mengenai kemungkinan pengunduran diri Menteri Keuangan juga turut membebani sentimen pasar.
Fokus reksa dana pada obligasi tenor pendek menjadi kontributor utama terhadap kinerja positif.
Ke depan, minat terhadap obligasi tenor pendek diperkirakan akan tetap kuat, didukung oleh potensi penurunan suku bunga BI lebih lanjut, meningkatnya permintaan dari SRBI yang jatuh tempo tahun ini, serta meningkatnya volatilitas global yang dapat mendorong permintaan terhadap kelas aset berisiko rendah.
Manulife Dana Campuran II
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja negatif berasal dari alokasi ekuitas, khususnya sektor Teknologi Informasi, karena dana tidak memiliki posisi pada saham pusat data yang naik sekitar 300% selama kuartal tersebut, yang menyebabkan sekitar 250 basis poin alpha negatif. Saham tersebut tidak termasuk dalam universe investasi karena valuasinya yang dianggap tidak wajar (PER sekitar 400x) dan likuiditas saham yang rendah.
Kontributor negatif lainnya berasal dari sektor Konsumer Diskresioner, terutama karena posisi underweight dana pada saham layanan ride-hailing yang mencatat kinerja sangat baik selama periode tersebut.
Sementara itu, kontributor positif utama berasal dari efek seleksi yang kuat di sektor utilitas dan alokasi obligasi.
Ke depan, kami tetap berhati-hati terhadap kondisi pasar. Pasar saat ini tampaknya sedang mencari pijakan yang stabil, namun prospek pertumbuhan masih belum pasti. Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan terus melambat, meskipun terdapat beberapa hal positif karena ekspektasi konsensus telah disesuaikan ke bawah. Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Kami berencana untuk mempertahankan alokasi overweight pada instrumen pendapatan tetap di tengah kondisi pasar yang bergejolak, dengan durasi yang netral terhadap benchmark. Di sisi ekuitas, kami tetap menyukai sektor-sektor yang didorong oleh permintaan domestik dengan kualitas laba yang tinggi, seperti sektor Keuangan dan Konsumer.
Manulife Dana Tumbuh Berimbang
Dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja negatif berasal dari alokasi obligasi, seiring dengan meningkatnya volatilitas di pasar. Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bull steepening, di mana obligasi tenor pendek mencatat kinerja lebih baik, sementara obligasi tenor menengah hingga panjang cenderung stagnan. Imbal hasil obligasi 5 tahun turun sebesar 25 basis poin, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun naik sebesar 2 basis poin.
Strategi dana menjadi lebih defensif selama periode tersebut, dengan durasi portofolio turun dari 7,5 tahun pada Desember 2024 menjadi 5,9 tahun pada akhir Maret 2025.
Sementara itu, alokasi ekuitas memberikan kontribusi positif, terutama dari efek seleksi yang kuat di sektor Material. Sektor ini mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan pasar selama periode tersebut, dan posisi underweight dana di sektor ini memberikan kontribusi positif terhadap kinerja.
Ke depan, kami tetap berhati-hati terhadap kondisi pasar. Pasar saat ini tampaknya sedang mencari pijakan yang stabil, namun prospek pertumbuhan masih belum pasti. Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan terus melambat, meskipun terdapat beberapa hal positif karena ekspektasi konsensus telah disesuaikan ke bawah. Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Strategi portofolio ke depan:
Ekuitas: Kami tetap mempertahankan preferensi pada sektor-sektor yang didorong oleh permintaan domestik dengan kualitas laba yang tinggi, seperti sektor Keuangan dan Konsumer.
Obligasi: Kami berencana untuk mempertahankan durasi portofolio pada posisi netral terhadap benchmark sambil menunggu katalis pasar berikutnya.
Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kinerja relatif terdampak negatif oleh sebagian alokasi di sektor Teknologi Informasi, yang di beberapa area tertekan oleh ancaman tarif serta perlambatan di sejumlah segmen teknologi yang menimbulkan kekhawatiran terhadap belanja modal (capex) AI, khususnya terkait peluncuran Deepseek di Tiongkok. Selain itu, kinerja kuat pasar Tiongkok terkonsentrasi pada saham H-share, sementara posisi dana lebih terfokus pada saham A-share. Beberapa investasi siklikal dana di India juga mengalami tekanan akibat pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan.
Faktor yang meredam dampak negatif antara lain adalah alokasi pada saham emas serta eksposur teknologi di Korea.
Eksposur reksa dana terhadap sektor TI telah dikurangi, seiring meningkatnya ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan AS yang semakin memburuk setelah kuartal pertama. Meskipun terdapat beberapa pelonggaran kebijakan (melalui jeda 90 hari atas tarif timbal balik dan pengecualian untuk beberapa produk teknologi seperti ponsel pintar dan komputer), kami menilai bahwa belanja modal korporasi untuk perangkat keras dan layanan TI akan tetap lemah hingga kebijakan perdagangan menjadi lebih jelas.
Eksposur teknologi kami kini lebih diarahkan pada upaya swasembada teknologi Tiongkok, yang dinilai tidak terlalu terpengaruh oleh dinamika internasional.
Portofolio tetap difokuskan pada saham-saham dengan pertumbuhan struktural, seperti yang terlibat dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV) di Tiongkok, energi terbarukan, dan teknologi domestik Tiongkok yang mendukung kebutuhan negara tersebut untuk meningkatkan kemandirian teknologinya. Pendekatan ini kami imbangi dengan penekanan pada sektor-sektor dengan visibilitas laba yang kuat, seperti Telekomunikasi dan Konsumer Staples.
Kami akan memanfaatkan peluang dari volatilitas pasar, terutama jika terjadi aksi jual yang tidak selektif terhadap perusahaan-perusahaan dengan fundamental laba yang tetap solid meskipun terjadi perubahan kebijakan perdagangan.
Manulife Saham Syariah Golden Asia Dolar AS Kelas A1
Reksa dana mencatat kinerja yang lebih rendah dibandingkan benchmark pada kuartal pertama 2025. Kontributor utama terhadap kinerja negatif berasal dari alokasi di sektor Teknologi Informasi, terutama karena kinerja negatif saham-saham TI India yang mengalami underperform selama periode tersebut. Pasar saham India secara keseluruhan mencatat kinerja negatif pada kuartal ini, tertekan oleh arus keluar dana asing akibat kekhawatiran terhadap potensi eskalasi tarif dari AS.
Kontributor negatif lainnya berasal dari alokasi di sektor Kesehatan, yang tertekan oleh kinerja saham farmasi India yang relatif tertinggal selama kuartal tersebut.
Sementara itu, seleksi saham yang kuat di sektor Energi memberikan kontribusi positif terhadap portofolio, terutama karena posisi underweight dana di sektor tersebut.
Portofolio tetap memfokuskan investasinya pada sektor-sektor dengan pertumbuhan struktural di Tiongkok dan India, seperti sektor TI Tiongkok yang diuntungkan oleh dorongan swasembada teknologi, sektor farmasi India yang kuat, serta keunggulan unik Tiongkok dalam pertambangan logam tanah jarang di sektor Material.
Manulife Dana Kas II Kelas A
Tingkat suku bunga deposito bank dalam portofolio relatif stabil di kisaran 6,50% – 7,25% selama kuartal tersebut. Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Januari 2025 menjadi 5,75%. Meskipun terjadi penurunan suku bunga, tingkat suku bunga deposito tetap stabil karena faktor musiman berupa pengetatan likuiditas menjelang periode Hari Raya pada bulan Maret.
Sementara itu, tingkat imbal hasil SRBI turun menjadi 6,43% dari 7,29% pada akhir 2024, mengikuti penurunan suku bunga BI.
Ke depan, kami melihat adanya ruang bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga, seiring dengan meningkatnya risiko terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan prospek penurunan suku bunga lebih lanjut dari BI dan dukungan terhadap pertumbuhan, kami memperkirakan tingkat suku bunga deposito dan imbal hasil SRBI akan cenderung menurun.
Kami akan mengarahkan alokasi pada obligasi korporasi untuk meningkatkan imbal hasil portofolio.
Temukan solusi investasi kami atau hubungi kami
Dapatkan analisis insight terkini, agar Anda dapat cepat berinvestasi (Grow) dan terproteksi (Protect) dengan solusi terkurasi khusus untuk Anda di sini.
Grow and Protect